TATKALA IMAN TERGODA


495806778m.jpg

Matahari telah tergelincir. Seorang lelaki abersegera menuju
masjid ketika adzan zuhur dikumandangkan dari sebuah masjid
kampus. Lelaki itu berwudhu dan menunaikan solat nawafil. Lalu ia
menjadi makmum di shaff terdepan.Solat wajib ia laksanakan dengan ruku’
dan sujud yang sempurna. Setelah solat tak lupa ia memuji nama Tuhannya dan
memanjatkan doa untuk dirinya, ibu,ayahnya dan untuk ummat Muhammad saw
yang sedang berjihad fii sabilillah.
Sebelum menuju kelas untuk kuliah, lelaki itu sempat bersalam-salaman
dengan beberapa jamaah lain. Dengan raut wajah yang bersahaja,

ia sedekahkan senyuman terhadap semua orang yang ditemuinya. Ucapan salam
pun ditujukannya kepada para akhwat yang ditemuinya di depan masjid.
Lelaki yang bernama Ali itu kemudian segera memasuki ruang kelasnya. Ia
duduk di bangkunya dan mengeluarkan buku berjudul “Langitpun Tergoncang’.
Buku berkisar tentang hari akhirat itu dibacanya dengan tekun. Sesekali ia
mengerutkan dahi dan dan sesekali ia tersenyum simpul. Ali sangat suka
membaca dan meyukai ilmu Allah yang berhubungan dengan hari akhir kerana
dengan demikian ia dapat membangkitkan rasa cinta akan kampung akhirat dan
tidak terlalu cinta pada dunia. Prinsipnya adalah “Bekerja untuk dunia
seakan hidup selamanya dan beribadah untuk akhirat seakan mati esok.”
Sejak setahun belakangan ini, Ali selalu berusaha mencintai akhirat.
Sunnah Rasululah saw ia gigit kuat dengan gigi gerahamnya agar tak
terjerumus kepada bid’ah. Ali selalu menyibukkan diri dengan segala Islam.
Ia sangat membenci sekularisme kerana menurutnya, sekularisme itu tidak
masuk akal. Bukankah ummat Islam mengetahui bahwa yang menciptakan
adalah Allah swt, lalu mengapa mengganti hukum Tuhannya dengan hukum
ciptaan dan pandangan manusia? Bukankah yang menciptakan lebih
mengetahui keadaan fitrah ciptaannya? Allah swt yang menciptakan, maka sudah
barang tentu segala sesuatunya tak dapat dipisahkan dari hukum Allah.
Katakan yang halal itu halal dan yang haram itu haram, kerana pengetahuan
yang demikian datangnya dari sisi Allah.
Sementara Ali membaca bukunya dengan tekun, dua mahasiswi yang duduk tak
jauh dari Ali bercakap-cakap membicarakan Ali. Mereka menyukai
sekali, Ali yang amat tampan dan juga pintar, namun belum mempunyai kekasih,
padahal banyak mahasiwi cantik di kampus ini yang suka padanya. Tapi
tampaknya Ali tidak ambil peduli.

Sikapnya itu membuat para wanita
menjadi penasaran dan justru banyak yang ber-tabarruj di hadapannya. Kedua
wanita itu terus bercakap-cakap hingga lupa bahwa mereka telah sampai kepada
tahap ghibah.
Ali memang tak mahu ambil tahu tentang urusan wanita kerana ia yakin jodoh di
tangan Allah swt. Namun tampaknya iman Ali kali ini benar-benar diuji oleh
Allah SWT. Ali menutup bukunya ketika pensyarah telah masuk kelas. Tampaknya
sang pensyarah tak sendirian, dibelakangnya ada seorang mahasiswi yang
kelihatan malu-malu memasuki ruang kelas dan segera duduk di sebelah Ali.
Ali merasa belum pernah melihat gadis ini sebelumnya.

Saat pensyarah mengabsen satu persatu,tahulah Ali bahwa gadis itu bernama
Nisa.
Tanpa sengaja Ali memandang Nisa. Jantungnya berdegup keras. Bukan
lantaran suka, tapi kerana Ali selalu menundukkan pandangan pada semua
wanita, sesuai perintah Allah SWT dalam Al Qur’an dan Rasulullah saw
dalam hadits.
“Astaghfirullah… !”, Ali beristighfar. Pandangan pertama adalah
anugerah atau lampu hijau. Pandangan kedua adalah lampu kuning. Ketiga
adalah lampu merah. Ali sangat khawatir bila dari mata turun ke hati
kerana pandangan mata adalah panah- panah iblis.
Pada pertemuan kuliah selanjutnya, Nisa yang sering duduk di sebelah Ali,
kian merasa aneh kerana Ali tak pernah menatapnya kala berbicara. Ia lalu
menanyakan hal itu kepada Utsman, teman dekat Ali. Mendengar penjelasan
Utsman, tumbuh rasa kagum Nisa pada Ali. “Aku akan tundukkan pandangan
seperti Ali”, tekad Nisa dalam hati.

Hari demi hari Nisa mendekati Ali. Ia banyak bertanya tentang ilmu agama
kepada Ali.Kerana menganggap Nisa adalah ladang da’wah yang potensial,
Ali menanggapi dengan senang hati.Hari berlalu… tanpa sengaja Ali
memandang Nisa.

Ada bisikan yang berkata, “Sudahlah pandang saja, lagipun Nisa itu tidak
terlau cantik.. Jadi mana mungkin kamu jatuh hati pada gadis seperti itu”

Namun bisikan yang lain muncul, “Tundukkan pandanganmu. Ingat
Allah! Cantik atau tidak, dia tetaplah
wanita.” Ali gundah.

“Kurasa, jika memandang Nisa, tak akan membangkitkan syahwat, jadi mana
mungkin mata, pikiran dan hatiku ini berzina.”

Sejak itu, Ali terus menjawab pertanyaan-pertanyaan Nisa tentang
agama, tanpa ghadhul bashar kerana Ali menganggap Nisa sudah seperti adik… ,
hanya adik.
Ali dan Nisa kian dekat. Banyak hal yang mereka diskusikan.
Masalah ummat maupun masalah agama. Bahkan terlalu dekat…
Hampir setiap
hari, Ali dapat dengan bebas memandang Nisa.
Hari demi hari, minggu demi minggu, tanpa disadarinya, ia hanya memandang
satu wanita, NISA! Kala Nisa tak ada, terasa ada yang hilang. Tak ada teman
diskusi agama…, tak ada teman berbicara dengan tawa yang renyah..,
tak ada…wanita. Lub DUBB!!! Jantung Ali berdebar keras, bukan kerana takut
melanggar perintah Allah, namun kerana ada yang berdesir di dalam hati…kerana
ia… mencintai Nisa. Bisikan-bisikan itu datang kembali…

“Jangan biarkan perasaan ini tumbuh berkembang. Cegahlah semampumu! Jangan
sampai kamu terjerumus zina hati…! Cintamu bukan kerana Allah, tapi
kerana syahwat semata.”

Tapi bisikan lain berkata, “Cinta ini indah bukan? Memang indah! Sayang
sekali jika masa muda dilewatkan dengan ibadah saja. Bila lagi kamu
dapat melewati masa kampus dengan manis.
Lagipula jika kamu berpacaran
kan secara sihat, secara Islami..
‘Benar juga..” Ali mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Manalah ada pacaran Islami, bahkan hatimu akan berzina dengan hubungan
itu. Matamu juga berzina kerana memandangnya dengan syahwat. Hubungan
yang halal hanyalah pernikahan. Selain itu tidak!!! Bukankah salah satu
tujuan pernikahan adalah untuk mengubur zina?”, bisikan yang pertama
terdengar lagi.

Terdengar lagi bisikan yang lain, “Terlalu banyak aturan! Begini
zina, begitu zina. Jika langsung menikah, bagaimana jika tidak sesuai?
Bukankah harus ada beramah-mesra dulu agar saling mengenal!
Apatah lagi kamu
baru kuliah tahun pertama. Nikah susah!”
Terdengar bantahan, “Benci kerana Allah, cinta kerana Allah. Jika
pernikahanmu kerana Allah, Insya Allah, Dia akan redha padamu, dan akan
tenteram keluargamu. Percayalah pada Tuhan penciptamu! Allah telah tentukan
jodohmu. Contohlah Rasululah SAW, hubungan beliau dengan wanita hanya
pernikahan.”

Bisikan lain berkata. “Bla.., bla.., Ali,… masa muda.., masa muda…, jangan
sampai disia-siakan, rugi!”
Ali berfikir keras. Kali ini imannya benar-benar dilanda godaan hebat.
Syaitan telah berhasil memujuknya dengan perangkapnya yang selalu
berjaya sepanjang zaman, iaitu wanita. Ali mengangkat gagang telefon. Jari-
jarinya bergetar menekan nomor telepon Nisa.

“Aah.., aku tidak berani.” Ali menutup telefon.
Bisikan itu datang lagi, “Menyatakannya, lewat surat

saja, supaya romantis…!”

“Aha! Benar! “ Ali mengambil selembar kertas dan menuliskan isi hatinya. Ia
bercadang akan memberikan kepada teman rapat Nisa. Jantung Ali berdebar
ketika dari kejauhan ia melihat Nisa terlihat menerima surat dari temannya
dan membaca surat itu.
Esoknya, Utsman mengantarkan surat balasan dari Nisa untuk Ali, lalu
Utsman berkata, “Nisa hari ini sudah pakai jilbab, dia jadi cantik lah.
Sudah jadi akhawwat!” Ali terkejut mendengarnya, namun rasa penasarannya
membuatnya lebih memilih untuk membaca surat itu terlebih dahulu daripada
merenungi ucapan Ustman tadi. Ali membaca surat itu dengan sungguh-
sungguh. Ia benar-benar tak menyangka akan penolakan yang bersahaja namun
cukup membuatnya merasa ditampar keras.
Nisa menuliskan beberapa ayat dari AlQur’an, isinya : “Katakanlah kepada
laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An Nuur :
30)

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan
oleh hati.”(QS. Al Mu’minuun : 19).

Ali menghela nafas panjang… Astaghfirullah… Astaghfirullah… Hanya
ucapan istighfar yang keluar dari bibirnya. Pandangan khianatku sungguh
terlarang. Memandang wanita yang bukan muhrim. Ya Allah… kami dengar dan kami
taat.
Astaghfirullah…

4 Responses

  1. aku membesar di sabah, x da gap agama antara adam dan hawa. jadi aku berkawan dgn semua org…. nakminta komen Nonaro ni… kena ubah ker dan x leh berkawan rpt ker dgn golongan hawa?

  2. Islam sgt menjaga batas2 perhubungan antara lelaki dan perempuan yg bkn mahram.Semua batas2 ini dah dijelaskan dlm al-Quran dgn terang sekali.antaranya an-nur :30.
    ttp kita x blh menganggap ini sbg satu bentuk diskriminasi sbgmana yg dilontarkan oleh orientalis Barat.Semua yg telah ditetapkan ada hikmahnya terutama dlm kita nk menangani masalah sosial yg dah nazak di akhir zaman ini.

  3. assalamu’alaikum..

    manusia sering kalah dalam bab ikhtilat..lebih-lebih lagi jiwa yang tak disirami dengan ketaqwaan dan keimanan yang teguh.

    sentiasalah bermohon pada Allah agar sentiasa membantu kita dalam menjaga ikhtilat lebih-lebih lagi bagi yang berada dalam medan perjuangan membawa nama islam..imej islam.

  4. sesungguhnya ghoddul bashar itu adalah yang terbaik…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: