1001 Inventions: The Library of Secrets

“From dark into light.

From ocean onto land”

For a thousand years, Muslim civilization stretched from southern Spain as far as China. From the 7th century onwards, scholars of many faiths built on the ancient knowledge of the Egyptians, Greeks and Romans, making breakthroughs that paved the way for the Renaissance.

The discoveries made by men and women in Muslim civilisation have left their mark on the way we live today. 1001 Inventions uncovers a thousand years of science and technology that had a huge but hidden impact on the modern world.

The 1001 Inventions exhibition completed its record-breaking residency at London’s Science Museum with 400,000 visitors in June 2010 and a block buster residency at the iconic and historic Sultan Ahmed Square in Istanbul with 390,000 visitors. The exhibition is set to open in New York in December 2010.The video above is the trailer film that was  specially made for this exhibition.

1001 Inventions: Discover the Muslim Heritage in Our World, traces the forgotten story of a thousand years of science from the Muslim world, from the 7th century onwards. The free exhibition looks at the social, scientific and technological achievements that are credited to the Muslim world, whilst celebrating the shared scientific heritage of other cultures. The exhibition is a British based project, produced in association with the Jameel Foundation.

Featuring a diverse range of exhibits, interactive displays and dramatisation, the exhibition shows how many modern inventions, spanning fields such as engineering, medicine and design, can trace their roots back to Muslim civilisation.

Review:

Opinions of historical periods differ depending on whose perspective one is viewing them through. In classrooms across London, England and the wider Western world the so-called Dark Ages are taught to be an era where there was very little technological, scientific and medical achievements. Not so, according to this highly illuminating exhibition that was at the Science Museum. 

…………Read more:

Source:

http://www.1001inventions.com/

CINTA TIDAK SEMESTINYA DIMILIKI

Kisah 1:

Lelaki ini adalah think tank di dalam Perang Khandaq.

Di Madinah, seorang muslimah telah mengambil hatinya…

Bukan sebagai kekasih..tetapi sebagai pilihan hati.

Pilihan menurut perasaan yang halus dan suci..pilihan untuk dinikahinya.

Tetapi Madinah adalah tempat yang asing baginya.  Madinah memiliki adat, bahasa, dan wajah-wajah yang belum begitu dikenalinya.  Pemuda itu berfikir, melamar seorang gadis tempatan tentu menjadi urusan yang pelik bagi seorang pendatang.

Mestilah perlu ada seorang yang akrab dengan tradisi di Madinah berbicara untuknya dalam khithbah…

Maka pemuda ini menyampaikan isi hatinya kepada sahabat Ansar yang dipersaudarakan kepadanya, Abu Dharda’.

“Subhanallah, walhamdulillah ..”, girang Abu Dharda’ mendengarnya.

Maka setelah dilakukan segala persiapan, beriringanlah kedua sahabat itu menuju ke sebuah rumah di penjuru kota Madinah.

Rumah seorang wanita yang solehah lagi bertaqwa.

“Saya adalah Abu Dharda’ dan ini adalah saudara saya, Salman seorang Parsi.  Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya.  Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah SAW, sehingga baginda menyebut beliau sebagai ahli baitnya.  Saya datang untuk mewakilisaudara saya ini melamar puteri anda untuk disunting”, fasih Abu Dharda’ menutur bicaranya.

“Adalah satu penghormatan bagi kami menerima anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia.  Dan adalah penghormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama.  Akan tetapi hak menerima ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami”.  Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan penuh debaran.

“Maafkan kami kerana terpaksa berterus terang”, kata suara lembut itu.  Ternyata sang ibu yang berbicara mewakili puterinya.  “Tetapi kerana anda berdua yang datang, maka dengan mengharap redha Allah saya menjawab bahawa puteri kami menolak pinangan Salman.  Namun jika Abu Dharda’ juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menerima pinangan itu.”

Jelas sekali.  Sikap terus terang yang begitu mengejutkan, ironi dan indah! Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya!

Ya, memang mengejutkan dan ironi.  Apa yang indahnya?? Yang indahnya adalah reaksi Salman.  Bayagkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat di dalam hati.

“Allahu Akbar!!” seru Salman.  “Semua mahar dan nafkah yang telah ku sediakan akan aku serahkan kepada Abu Dharda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Cinta memang tak harus memiliki…

Kisah 2:

Lelaki ini adalah seorang raja.  Pemerintah selepas Khalifah Ali bin Abu Talib…Hatinya bergetar dan ia tahu dia telah jatuh cinta.. Pada seorang muslimah solehah, iaitu rakyatnya sendiri

Tiada ada yang istimewa pada wanita itu dari segi kecantikannya. Namun itu lah yang membuatnya jatuh cinta.

Maka dengan kekuasaanya ia menikahi wanita itu…

Tapi dia tidak tahu yang dia tak pernah mampu menikahi hati wanita itu.

Wanita itu telah melatakan hatinya pada pemuda desanya….

Hingga di keheningan malam di 1/3 terakhir, terdengarlah olehnya bait-bait puisi dalam lantunan doa…. Tentang kerinduannya pada pemuda desa itu…

Dia sedar. Ini adalah deklarasi jiwa isterinya. “Aku Tak Mencintaimu”

Maka dengan berat hati. Dia menceraikan isterinya.

Lelaki ini adalah Muawiyyah bin Abu Sufyan. Duta pertama dari Rasulullah SAW yang datang dan melaporkan keadaan Kepulauan Nusantara kepada Nabi SAW

Cinta memang tak harus memiliki…

Kisah 3:

Lelaki ini adalah ideologi Ikhwanul Muslimin. Orang nombor dua yang sangat berpengaruh setelah Hasan Al-Banna, pada harakah itu..

Ia adalah lelaki soleh.

Dulu dia pernah jatuh cinta pada gadis desanya. Namun gadis desa itu menikah.. 3 tahun setelah lelaki ini pergi belajar ke luar negeri untuk belajar. Hal ini membuat ia sedih namun ia tidak mahu larut dalam kesedihannya.

Kisah cintanya mulai dari awal lagi. Ia kemudian jatuh hati pada wanita Cairo. Meskipun tidak terlalu cantik, ia tertarik pada gelombang unik yang keluar dari sorot mata wanita tersebut.

Tapi pengakuan bahawa gadis tersebut pernah menjalin cinta dengan lelaki lain, membuat runtuh cinta lelaki ini.

Ia hanya ingin wanita yang benar-benar perawan, baik fizikal mahupun hatinya. Akhirnya ia membatalkan niatnya menikahi gadis tersebut. Hal ini membuat lelaki itu sedih cukup lama….

Sampai kemudian ia putuskan untuk menerima kembali wanita tersebut. Namun apa yang terjadi? Ditolak. Inilah yang kemudian membuat lelaki itu menulis roman-roman kesedihannya.

Yang luar biasa adalah, lelaki ini sedar dirinya berada dalam alam realiti. Bukan dalam dunia ideal yang indah dan ideal.

Kalau cinta tidak mahu menerimanya, biarlah ia mencari sumber kekuatan lain yang lebih hebat dari cinta. “Allah”.

Kekuatan itulah yang kemudian membawanya ke penjara selama 15 tahun. Menulis karya agungya Tafsir “Fi Zilaalil Qur’an”

Dan syahid di tiang gantungan.

Sendiri!!!

Tidak ada air mata,  tidak ada sentuhan wanita. Benar-benar sendirian!!

Lelaki ini adalah Sayyid Qutb.

Lelaki yang Allah Maha Tahu… Bahawa dirinya lebih dihajatkan langit… Daripada wanita bumi….

Cinta memang tak harus memiliki…

Kisah 4:

Lelaki ini adalah Khalifah ke empat, setelah Usman bin Affan…Dia memandang seorang budak perempuan. Di pelataran rumah seorang sahabatnya…‘Aisyah binti Thalhah, nama gadis itu…

Maka teringatlah kembali kenangan tentang sahabatnya itu ….Thalhah..

Thalhah lah lelaki yang mengatakan pada perang Uhud..“Khudz bidaamii hadzal yauum, hattaa tardhaa…”.“ Ya Allah, ambil darahku hari ini sekehendakMu hingga Engkau redha.” Tombak, pedang, dan panah yang menyerpih tubuh dibiarkannya, dipeluknya badan sang Nabi seolah tak rela seujung bulu pun terkena.

Tapi ia juga yang membuat Arasy Allah bergetar dengan perkataannya. Maka Allah menurunkan firmanNya kepada Sang Nabi dalam ayat 53 surat Al Ahzab.

Ini di sebabkan ketika Thalhah berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya.

Rasulullah datang, dan wajah beliau seperti tidak suka.

Dengan isyarat, baginda SAW meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik.

Wajah Thalhah merah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”

Maka bergetarlah langit..“Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”(QS Al Azhab 53)

Ketika ayat itu dibacakan padanya, Thalhah menangis. Dia lalu memerdekakan hambanya, menyumbangkan 10 untanya untuk jalan Allah, dan menunaikan haji dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya.

Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan nama ‘Aisyah.‘Aisyah binti Thalhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti ‘Aisyah binti Abu Bakar yang pernah dicintai Thalhah.

Cinta memang tak harus memiliki…

Pada Salman..

Pada Mu’awiyyah

Pada Sayyid Qutb

Pada Thalhah

Kita belajar bahawa cinta itu harus diletakkan di tangan, bukan di hati kerana sebelum akad diucapkan, tidak ada hak pada dirimu manusia yang engkau cintai itu..

Semoga Allah memberikan gantinya yang lebih baik.. Lebih dari segala-galanya.

Sumber : http://www.ataphijau.com

MARIA

Sudah hampir 7 tahun saya mencari novel yang berjudul ” Maria ” ini,di mana-mana saja kedai buku yang saya singgahi namun masih belum ketemu.Rasanya tidak memasuki pasaran di Malaysia lagi pada ketika itu ( namun skrg sy tidak pasti kerana sudah lama tidak berkunjung ke bookstore).. “Maria” yang saya cari itu sungguh kabur, kerana saya hanya pernah mendengar cebisan saja jalan ceritanya dan saya tidak mengetahui siapakah penulisnya..Namun hati saya benar-benar tertarik untuk memilikinya.Jika beberapa tahun yang lepas , sahabat saya pernah memberitahu bahawa novel ini boleh dibeli dengan dipesan dari teman2 yang belajar di Cairo.Namun saya tetap juga tidak mempunyai peluang untuk memesannya.

Setelah beberapa lama saya melupakan “Maria”, akhirnya ia muncul di depan mata apabila Pondok Buku berjaya mendapatkan novel ini untuk pasaran online nya..Pantas saya membaca sinopsisnya untuk meyakinkan saya adakah ini “Maria” yang saya cari selama ini.Jika benar ini “Maria” yang saya cari selama ini, maka tahniah kepada Pondok Buku kerana telah memenuhi hasrat saya..Kali pertama saya membeli buku secara online di Pondok Buku kira-kira 2 tahun yang lepas, pernah saya bertanyakan tentang “Maria”, namun saat itu Pondok Buku pun belum pernah mengetahui tentang kewujudannya.

InsyaAllah saya akan memesannya tidak lama lagi.Andaipun ia bukan “Maria” yang saya cari selama ini, tidak mengapa bagi saya..Dan saya akan terus mencarinya.

SINOPSIS

Penulis :Emine Uzqan Syenlikoghu

Maria adalah gadis Jerman bermazhab Katolik. Mengharungi liku-liku hidup sebagai anak kepada ibu yang fanatik pada mazhab itu, sedangkan ayahnya seorang ateis. Namun, kehendak Allah mengatasi segalanya. Pertemuaannya dengan pemuda Mesir membuka episod pergelutan tiga penjuru , Islam-Kristian-Ateis.

Abdul Wahab, pemuda Mesir yang belajar di Jerman berjaya menarik Maria ke jalan Allah akhirnya memilih Maria sebagai calon isteri selepas kematian tunangnya, Salwa. Pada saat itu juga, Maria memutuskan hubungan kasihnya dengan pemuda Turki bernama Muhammad yang sudah hilang pegangan Islamnya. Hubungan antara Abdul Wahab dan Maria diuji apabila Abdul Wahab mendapat berita Salwa sebenarnya masih hidup. Maria terperangkap antara cinta dan pengorbanan di samping tekanan daripada ibu dan adiknya.

Mampukah Maria terus berdiri atas niat murni demi Islam yang dianutinya tanpa Abdul Wahab di sisi? Mampukah dia terus hidup dalam mengharungi kemelut akidah dan tekanan keluarganya?

Biodata Penulis: Emine atau Aminah Uzqan Syenlikoghu, penulis terkemuka Turki dilahirkan pada tahun 1953 di bandar Istanbul. Beliau sempat melalui zaman-zaman perubahan Turki. Menjadi pengarah umum Majalah Mektup dari tahun 1985. Bergiat cergas dalam kegiatan Islam dan kesusateraan antarabangsa. Beliau banyak menghasilkan karya-karya bermutu dan dipenjara beberapa kali kerana karya-karyanya. Pernah menuntut di Universiti Al-Azhar, Fakulti Usuluddin.

SALAM AIDILFITRI

Assalamualaikum wbt.Rasanya masih belum terlambat untuk sy mengucapkan Selamat Hari Raya Aidilfitri kepada teman-teman sekalian. Hari ini 20 September 2010 saya kembali ke kampus seperti biasa utk menyelesaikan kerja-kerja yg tertunggak setelah 2 minggu lamanya bercuti..(err ni la kali pertama cuti raya yang paling panjang selama masuk u).Aidilfitri kali ini cukup istimewa bagi saya walaupun tidak kesemua ahli keluarga saya dapat berkumpul kerana ada yang beraya di perantauan.

Maka di kesempatan ini,saya ingin memohon maaf kepada teman-teman andai ada salah dan silap saya sama ada disengajakan atau tidak disengajakan.Semoga kalian juga dilimpahi barakah di bulan Syawal yang mulia ini.

Sekian saja drp saya.

Tak dapat makan hamper raya, dapat tdo dalam kotak hamper pun jadi la

Kalaulah Bukan Kerana Allah Menutup Aib Kita

Pada zaman Nabi Musa AS, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berpanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami”. Maka berangkatlah Musa A.S. bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan penuh debu, haus dan lapar.

Nabi Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak.. wansyur ‘alaina rahmatak.. warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’.. wal bahaaim ar rutta’.. wal masyaayikh ar rukka’..” Setelah itu langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin menyilau (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul). Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi.. asqinaa”..

Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Kerana dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian”.

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak  turun”. Seorang lelaki menjeling ke kanan dan kiri, maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia, saat itu pula ia sedar kalau dirinya yang dimaksud.

Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahsiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun”. Maka hatinya pun gundah-gulana, air matanya pun menitis, menyesali perbuatan maksiatnya sambil berkata , “Ya Allah, Aku telah bermaksiat kepadaMu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepadaMu, maka terimalah taubatku”.

Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun muncul, semakin lama semakin tebal menghitam, dan akhirnya turunlah hujan. Musa pun kehairanan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia”. Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang kerananya hujan tak turun telah bertaubat kepadaKu”.

Musa berkata, “Ya Allah, tunjukkan padaku hamba yang taat itu”. Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka aibnya sewaktu dia masih bermaksiat kepadaKu, apakah Aku perlu membuka aibnya sedangkan dia taat kepadaKu?

Kisah ini dipetik dari :

OhIslam.com

********************

*Kisah yang benar2 memberi pengajaran kepada kita.Pengajaran tentang erti taubat dan erti syukur.Bukankah setiap daripada kita pernah melakukan kesalahan ? malah kesalahan yang Allah telah tutupkan aibnya.Namun hamba yang bodoh tetap tidak menyedarinya dan terus bermaksiat kerana baginya selagi tiada sesiapa yang tahu akan perbuatannya maka selagi itulah dia selamat.

Semoga kisah ini meruntun jiwa hamba untuk bertaubat.Takutilah akan Hari Pembongkaran kelak di mana Allah sendiri lah yang akan menghakimi setiap hambaNya.

“Tidak ada seorang pun antara manusia di akhirat kelak kecuali dia akan berhadapan dengan Allah SWT .Antara manusia dan Tuhan tidak ada jurubahasa (tiada pegawai protokol).   -HR Muslim

Membaca kisah ini juga mengingatkan saya akan sebuah buku yang dikarang oleh Tuan Guru Nik Abdul Aziz Nik Mat, “Bertemu Janji Allah” yang menyingkap akan kisah mahsyar yang menyayat hati.

Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW menjelaskan mengenai hari pendedahan yang akan dilakukan oleh Allah terhadap hambaNya di akhirat kelak, sehingga ada di kalangan manusia yang memohon kepada Allah supaya segala rahsia keburukan diri mereka tidak didedahkan di khalayak ramai dan tidak juga didedahkan di hadapan Allah.Mereka tidak sanggup menanggung malu yang amat sangat.

Sesetengah mereka menganggap lebih baik mereka dicampakkan terus ke neraka asalkan tidak didedahkan segala perbuatan mereka yang keji dan hodoh.

Maka takutilah dari sekarang  ini akan hari pembongkaran yang penuh gawat kelak.Masih belum terlambat untuk bertaubat kepada Allah. Kerana sesungguhnya orang yang bertaubat, beriman dan beramal soleh akan ditutup aibnya di Hari Segala Dosa Dibongkar.

(Ingatlah) hari (yang pada waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari perhimpunan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) diperlihatkan segala kesalahan, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal soleh nescaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam syurga dan mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.Itulah keuntungan yang besar.

-Surah Taghabun (64:9)

Sekian saja untuk peringatan bersama. Salam Ramadhan daripada saya.

The Emperor and the Seed

An emperor in the Far East was growing old and knew it was time to choose his successor. Instead of choosing one of his assistants or his children, he decided something different. He called young people in the kingdom together one day. He said, “It is time for me to step down and choose the next emperor. I have decided to choose one of you.”

The kids were shocked! But the emperor continued. “I am going to give each one of you a seed today. One very special seed. I want you to plant the seed, water it and come back here after one year from today with what you have grown from this one seed. I will then judge the plants that you bring, and the one I choose will be the next emperor!”

One boy named Ling was there that day and he, like the others, received a seed. He went home and excitedly told his mother the story. She helped him get a pot and planting soil, and he planted the seed and watered it carefully. Every day he would water it and watch to see if it had grown. After about three weeks, some of the other youths began to talk about their seeds and the plants that were beginning to grow. Ling kept checking his seed, but nothing ever grew. 3 weeks, 4 weeks, 5 weeks went by. Still nothing. By now, others were talking about their plants but Ling didn’t have a plant, and he felt like a failure. Six months went by, still nothing in Ling’s pot. He just knew he had killed his seed.

Everyone else had trees and tall plants, but he had nothing. Ling didn’t say anything to his friends, however. He just kept waiting for his seed to grow.

A year finally went by and all the youths of the kingdom brought their plants to the emperor for inspection. Ling told his mother that he wasn’t going to take an empty pot. But honest about what happened, Ling felt sick to his stomach, but he knew his mother was right. He took his empty pot to the palace. When Ling arrived, he was amazed at the variety of plants grown by the other youths. They were beautiful in all shapes and sizes. Ling put his empty pot on the floor and many of the other kinds laughed at him. A few felt sorry for him and just said, “Hey nice try.”

When the emperor arrived, he surveyed the room and greeted the young people. Ling just tried to hide in the back. “What great plants, trees and flowers you have grown,” said the emperor. “Today, one of you will be appointed the next emperor!” All of a sudden, the emperor spotted Ling at the back of the room with his empty pot. He ordered his guards to bring him to the front. Ling was terrified. “The emperor knows I’m a failure! Maybe he will have me killed!”

When Ling got to the front, the Emperor asked his name. “My name is Ling,” he replied. All the kids were laughing and making fun of him. The emperor asked everyone to quiet down. He looked at Ling, and then announced to the crowd, “Behold your new emperor! His name is Ling!” Ling couldn’t believe it. Ling couldn’t even grow his seed. How could he be the new emperor? Then the emperor said, “One year ago today, I gave everyone here a seed. I told you to take the seed, plant it, water it, and bring it back to me today. But I gave you all boiled seeds, which would not grow. All of you, except Ling, have brought me trees and plants and flowers. When you found that the seed would not grow, you substituted another seed for the one I gave you. Ling was the only one with the courage and honesty to bring me a pot with my seed in it. Therefore, he is the one who will be the new emperor!”

If you plant honesty, you will reap trust. If you plant goodness, you will reap friends. If you plant humility, you will reap greatness. If you plant perseverance, you will reap victory. If you plant consideration, you will reap harmony. If you plant hard work, you will reap success. If you plant forgiveness, you will reap reconciliation. If you plant openness, you will reap intimacy. If you plant patience, you will reap improvements. If you plant faith, you will reap miracles.
But if you plant dishonesty, you will reap distrust. If you plant selfishness, you will reap loneliness. If you plant pride, you will reap destruction. If you plant envy, you will reap trouble. If you plant laziness, you will reap stagnation. If you plant bitterness, you will reap isolation. If you plant greed, you will reap loss. If you plant gossip, you will reap enemies. If you plant worries, you will reap wrinkles. If you plant sin, you will reap guilt.

Adapted from:

http://www.wow4u.com/storyindex/index.html

GLOBE OF MY MIND

Kira-kira hampir dua bulan yang lepas saat saya berkunjung ke sebuah kedai cenderamata, mata saya terpandang akan ia.Terus hati berkata, “Cantik,istimewa, dan aku ingin memilikinya.”Tanpa berfikir panjang terus saya membelinya.

Kini ia sentiasa saja menemani saya di suatu sudut ruangan meja sambil saya menyelesaikan segala kerja di skrin laptop ini.Setiap kali memandang akan ia, timbul beberapa persepsi dan inspirasi yang berbeza yang membuatkan saya sering berfikir.

SUMBER MOTIVASI

Globe kaca itu saya putar-putarkan di saat merasa penat dengan kerja-kerja yang perlu saya selesaikan.Terasa malas datang mencengkam jika terus dilayankan saja perasaan.Namun melihatkan globe itu, timbul persoalan di benak fikiran, “Bagaimana akan aku kuasai segala ilmu ini jika terus bermalasan begini?” Terus terasa ingin saja digenggam globe kecil itu.Semoga Allah meletakkan dunia ini di tanganku, bukan di hatiku.

KEBESARAN ILAHI

Kadang-kadang saat terpandang akan ia, terus membuatkan diri ini terasa begitu kerdil sekali di sisi Tuhan.Saya membayangkan andai globe kecil sebesar bola ping pong  ini adalah bumi, maka apakah bilik yang beribu kali ganda besar dari saiz globe ini adalah Sistem Suria?Jika saiz bilik itu mewakili Sistem Suria, maka kemungkinan bangunan yang diduduki itu adalah Bima Sakti, malahan mungkin lebih besar lagi, meliputi 1 kawasan luas yang seluas padang bola sepak kerana sesebuah galaksi dianggarkan memiliki 100000 juta bintang.Itu baru saja sebuah galaksi,tetapi anggaran sains mengatakan bahawa mungkin terdapat 170 bilion galaksi dalam alam semesta ini.Dan itu baru saja anggaran akal manusia yang kerdil dan terhad pengetahuannya, namun kebesaran sebenar alam ini hanya Allah saja lah yang Maha Mengetahui.Berbalik kepada globe kecil sebesar bola ping pong tadi, cuba bayangkan anda salah seorang manusia yang sedang berjalan di atasnya,andai anda diberi sayap untuk terbang sekalipun belum tentu anda mampu menjejaki ke sudut sebatang pensil yang terletak kira-kira 5 cm bersebelahan dengannya, apatah lagi menjangkaui keseluruhan sistem ini.Sungguh aku bersaksi bahawa Allah itu Maha Besar.Semoga Allah mengampuni dosa-dosa hambaNya yang berjalan angkuh dan megah di muka bumi.

MUHASABAH DIRI

Di saat fikiran berserabut dengan hal-hal duniawi, di tambah dengan dosa yang membenakkan hati tentu saja membuatkan diri tidak senang duduk.Namun apabila terpandang akan globe ini, hati akan mengingatkan,”Ini semua permainan dunia, ramai manusia yang sudah tenggelam di dalamnya.Semoga Allah menjauhkan aku sejauh-jauhnya dari lalai dengannya.”

INGATKAN  DIRI

Dan hati akan terus mengingatkan setiap kali terpandang akan globe kaca yang berputar-putar itu, “Berbaktilah kepada agama Allah tidak kira di mana saja engkau berjalan di muka bumi ini.”

Semoga Allah juga meneguhkan hati sahabat-sahabat seperjuangan dan saudara seiman tidak kira di ruang muka bumi mana mereka sedang berada saat ini apatah lagi ketika mereka sedang diuji.Allahurabbi

Sekian.